Karst Gunung Sewu Landscape

Hamparan bukit membentang luas dari Timur ke Barat berjumlah banyak, ratusan bahkan ribuan. Berbentuk seperti mangkok yang ditengkurapkan. Perbukitan ini dinamakan Gunung Sewu, kata sewu=seribu.

Suatu malam pada Juni 2008, ketika saya dan teman-teman ASC selesai menelusuri salah satu gua di Sumba, kami dikejutkan dengan suara jejak kaki manusia. Ia melangkah, seakan-akan mendekati kami. Lorenz, nama pemandu kami, memperingatkan untuk waspada dan siap-siap untuk menyerang. Dia berkata kalau kita tidak duluan nyerang, kita akan diserang duluan. “Itu perampok” bisik Lorenz kepada kami.
Di Sumba banyak terjadi perampokan hewan ternak. Modus operasi perampokannya dengan bergerombol dan banyak orang. Cara merampoknya sangat unik, yaitu dengan berjalan kaki dan secara terang-terangan. Umumnya para perampok membawa senjata tajam dan batu. Mereka tak segan-segan membunuh atau melukai jika ada orang yang melawan. Para perampok siap untuk mati dalam melakukan aksinya. Sebelum berangkat merampok, mereka mengadakan upacara adat dengan memotong ayam dan dilihat bagian ususnya. Jika usus ayam tersebut bersih, berarti usaha merampok mereka akan berhasil, jika tidak maka malapetaka akan menjumpai mereka.
Dua minggu kemarin, ada dua perampok yang mati dibunuh bapak Kepala Desa. Terdengar kabar mereka akan membalas dendam. Berita tersebut semakin membuat kami tegang. Karna hanya ada dua pilihan, yaitu menyerang atau diserang, kami sepakat untuk menyerang. Kami masing-masing mengambil sesuatu benda untuk senjata. Niko mengambil pisau tebas ‘tramontina’, Umbu Angga menggunakan set SRT (alat untuk melintasi lintasan vertikal) sebagai pemukul, Fredy dan Ryan mengeluarkan pisau lipat, dan saya hanya mengeluarkan lampu kilat (blitz). Dalam pikiranku ketika lampu kilat tak nyalakan, para perampok akan silau dan saat itulah kesempatan teman-teman untuk menyerang.
Lama kelamaan langkah kaki tersebut semakin mendekat. dan kamipun siap untuk menyerang. Setelah sangat dekat, Lorenz berteriak ‘wauw..’. Ternyata yang ada dihadapan kami bukan perampok, melaikan babi hutan. Spontan kami tertawa terbahak-bahak. Lega ternyata bukan perampok yang sebenarnya. Ntah bagaimana nasibnya jika yang kami hadapi benar-benar berhadapan dengan perampok.
Pulau Sumba kaya akan hewan ternak. Disana terdapat ratusan ribu hewan ternak; terdiri dari: kuda, babi, kerbau, sapi dan kambing. Masyarakat Sumba menjadikan hewan ternak sebagai aset dan mata pencaharian utama. Pengaruh ternak bagi kehidupan dan budaya sangat besar.  Jika seorang laki-laki akan meminang gadis, harus membayar belis (mas kawin). Teman saya, Anis menyiapkan 50 ekor kerbau, kuda atau babi yang diminta keluarga calon istrinya. Jumlah yang cukup besar jika dibandingkan dengan penghasilan rata-rata masyarakat Sumba. Jika dihitung 50 ekor hewan ternak dengan harga rata-rata perhewannya 3 juta berarti 150 juta.
Bagi orang Sumba, mengumpulkan hewan ternak sebanyak itu dilakukan dengan meminjam tetangga atau saudara dan menggunakan ternak yang sedang dipelihara. Umumnya mereka bantu-menbantu mengumpulkan hewan ternak untuk memenuhi permintaan ternak tersebut. Selain belis, masih ada perayaan atau pesta yang mengharuskan menggunakan ternak sebagai syaratnya, yaitu: kematian dan membangun rumah. Ketika akan menguburkan jenazah, keluarga harus menyediakan hewan ternak sebagai hidangan para peziarah. Dan untuk menaikkan martabat orang yang meninggal, dilakukan pemotongan hewan ternak sebanyak mungkin. Semakin banyak hewan ternak yang dipotong, semakin bermartabat pula orang yang meninggal. Begitu juga dengan membangun rumah. Sebelum rumah dibangun, orang yang akan membangun rumah tersebut mengundang tetangga dan saudaranya untuk berpesta. Didalam pesta hidangannya daging hewan ternak.
Bapak Andre, juru bicara di desa Watumbelar menjelaskan kalau masyarakat Sumba sekarang maju tidak maju, mundur tidak mundur, jalan di tempat. Tetapi ini merupakan adat yang harus dijalankan dan dijaga. Masyarakat Sumba tidak bisa lepas dari hewan ternak. Dan hal inilah yang menjadi keunikan Sumba.